Beranda»Ekonomi»RI targetkan EFTA dapat rampung 2013

RI targetkan EFTA dapat rampung 2013

BISNIS ACEH
Rabu, 28 November 2012 06:17 WIB

 

European Free Trade Assosiation (EFTA)FOTO : istEuropean Free Trade Assosiation (EFTA)

JAKARTA - Pemerintah menargetkan negosiasi comprehensive economic partnership agreement dengan European Free Trade Assosiation (EFTA) rampung pada 2013 guna menggenjot investasi dan pengembangan kapasitas  dari negara maju.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan kerjasama ekonomi komprehensif dengan EFTA akan membantu diversifikasi ekspor ke pasar nontradisional.

EFTA beranggotakan empat negara di belahan Eropa Utara, yakni Islandia,  Liechtenstein, Norwegia dan Swiss.

“Saya mau coba genjot sedikit. Kalau bisa tahun depan, paling lambat 2014. Yang kita harapkan bukan hanya perdagangan, tapi investasi, pariwisata, capacity building,” katanya seusai Bilateral Meeting Indonesia-Norwegia, Selasa.

Seperti diketahui, perundingan CEPA RI-EFTA yang dimulai sejak 2010 telah melewati negosiasi putaran kelima di Swiss pada Juli 2012.

Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo sebelumnya mengatakan Indonesia dan EFTA masih berupaya mencari titik temu untuk menyeimbangkan perdagangan kedua belah pihak.

 “Kita dengan mereka (EFTA) memang komplementer, tapi masih mencari balance-nya di mana. Karena mereka kan produksi hi-tech product. Kita ingin dapat benefit juga. Makanya ini masih dicari,” jelasnya.

Sementara dengan Norwegia, Indonesia berharap negara tersebut dapat meningkatkan investasi di Tanah Air mengingat nilainya yang terbilang masih kecil, yakni hanya US$7,3 juta pada kuartal III/2012.

Gita menuturkan potensi penanaman modal itu ada mengingat Norwegia memiliki Sovereign Wealth Fund (SWF) terbesar di dunia yang sudah berinvestasi di 49 perusahaan terbuka.

Sementara, investasi non-SWF bisa diarahkan untuk kemitraan di sektor energy terbarukan, hydro power, dan produk berkelanjutan (sustainable product).

Nilai perdagangan kedua negara selama delapan bulan pertama tercatat US$238,67 juta dengan defisit di sisi Indonesia sebesar US$111,08 juta. Indonesia selama ini banyak mengimpor produk otomotif dan mesin dan Norwegia.

Pemerintah berkeinginan meningkatkan ekspor produk pertanian ke Norwegia, termasuk minyak sawit mentah (CPO) yang sedang menunggu pengakuan dari Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat sebagai bahan bakar yang memenuhi renewable fuel standard (RFS).

“Semoga ke depan lebih balance. Kita juga bisa meraih keuntungan demi kepentingan capacity building,” ujarnya.

Gita berharap nilai perdagangan Indonesia-Norwegia mencapai 1% dari produksi domestik bruto kedua negara atau sekitar US$1,3 miliar pada waktu mendatang.

Menteri Perdagangan dan Industri Norwegia Trond Giske berharap hubungan dagang Norwegia dan Indonesia bisa ditingkatkan menjadi CEPA bilateral.

“Indonesia memiliki GDP (gross domestic product) yang kuat dan sumber daya alam yang melimpah,” ujarnya. Pemerintah Norwegia berkomitmen memberikan capacity building bagi eksportir Indonesia.

Sumber : bisnis



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close