Beranda»Berita Utama»Pasca Tsunami tak ada pembangunan ekonomi fundamental di Aceh

Pasca Tsunami tak ada pembangunan ekonomi fundamental di Aceh

SUSILA ~ BISNIS ACEH
Rabu, 26 Desember 2012 17:55 WIB

ilustrasiFOTO : Istilustrasi

BANDA ACEH - Ketua Komite Kebijakan dan Kerjasama Luar Negeri, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh, Shalahuddin Alfata mengatakan bahwa pasca Tsunami yang melanda Aceh pada 24 Desember 2004 yang silam, tidak ada pembangunan ekonomi fundamental yang dilakukan di Aceh sebagai basis dukungan ekonomi Aceh saat ini.

"Fokus pembangunan Aceh pasca Tsunami hanya dipusatkan pada rehabilitas dan rekonstruksi rumah dan investasi tidak bergerak lainnya, hal ini lah yang menyebabkan saat ini tidak ada dampak ekonomi nyata di Aceh," katanya kepada Bisnis Aceh hari ini, Rabu.

Ia menjelaskan, besarnya arus modal yang masuk ke Aceh melalui berbagai badan internasional, NGO dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, fokus pembangunan hanya berkutat pada persoalan aspek fisik dan infrastruktur saja, dengan mengabaikan persoalan ekonomi lainnya.

"Seharusnya pada saat ini manajemen bencana juga bisa memprediksi kebutuhan basis dasar bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan di Aceh," tukasnya.

Ia menyebutkan, proyek pembangunan fisik di Aceh yang dititik beratkan pada pembangunan infrastruktur jalan, jembatan serta pelabuhan udara dan laut terbukti saat ini belum berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Ini masalahnya, sektor ekonomi ril masyarakat tidak bergerak, walau secara infrastruktur ekonomi, seperti jalan dan pelabuhan sudah sangat memadai," sebutnya.

Dicontohkannya, proyek monumental pasca bencana Tsunami adalah jalan lintas barat yang dibangun oleh USAID, namun persoalan yang muncul kemudian adalah jalan ini belum terhubung dengan ruas jalan lainnya disepanjang kawasan barat-selatan, sehingga pemanfaatannya belum optimal.

"Dan kalau kita perhatikan hal lainnya, proyek pemberdayaan ekonomi ril masyarakat yang dilakukan oleh BRR pada masa itu, saat hampir dapat dikatakan gagal," ulasnya.

Seharusnya, tambahnya, prioritas yang dilakukan pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh adalah proyek perbaikan sarana infrastruktur irigasi di Aceh, yang sebagian hancur akibat bencana.

"Corak produksi masyarakat Aceh itukan pertanian, namun usaha-usaha perbaikan infrastruktur pertanian pada saat itu tidak menjadi prioritas, faktor inilah salah satu yang menyebabkan perekonomian Aceh saat ini masih lambat," pungkasnya.

Padahal, sambungnya, sektor pertanian adalah wilayah yang terkenda dampak langsung Tsunami, namun revitalisasi pertanian pada saat itu tidak begitu menjadi perhatian penting.

"Dampaknya terasa saat ini, seharusnya ekonomi ril berjalan pasca Tsunami Aceh dari sektor ini," tandasnya.



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda

Terbaru di Berita Utama

Close