Beranda»Berita Umum»Makam Nabi Muhammad dan spirit kapitalisme Arab

Makam Nabi Muhammad dan spirit kapitalisme Arab

BISNIS ACEH
Rabu, 31 Oktober 2012 15:36 WIB

IlustrasiFOTO : ardisfamily.blogspot.comIlustrasi

JAKARTA - Modernisasi dan kesetiaan menjaga situs sejarah Islam menjadi isu yang terus tarik menarik dalam kebijakan Arab Saudi. Termasuk dalam memelihara kota suci Mekah al-Mukaramah. Di satu sisi, langkah-langkah memoderenkan fasilitas yang ada di sana dirasakan manfaatnya. Tapi di sisi lain hal itu malah menimbulkan kontroversia dunia Islam.

Ketika terowongan Mina diperbaiki, dan umat Islam dunia merasakan kenyamanannya. Namun, ketika langkah-langkah modernisasi itu bersentuhan dengan semangat kapitalisme dengan mengundang “simbol-simbol” kapitalisme ke kota Mekah, umat Islam pun mengerenyitkan kening.

Betapa tidak, semangat modernisasi itu kemudian membuat wajah Mekah dibayang-bayangi oleh napas kapitalisme multinasional.

Di Mekah kemudian berdiri menara mewah menjulang bernama Abraj Al Bait Towers.

Menara Abraj Al Bait ini adalah sebuah kompleks bangunan yang pelaksanaan pembangunannya dilakukan oleh Saudi Binladin Group, berlokasi di seberang jalan Masjidil Haram, salah satu masjid suci umat Islam. Menara Abraj Al Bait ini dirancang bisa menampung hingga 100.000 orang.

Mulanya, Abraj Al Bait diniatkan untuk menampung para jamaah haji yang semakin banyak datang ke Mekah. Namun, di balik itu orang pun dengan mudah menangkap nuansa motif bisnis, yakni bisnis perhotelan. Betapa pun, jumlah jamaah yang terus bertambah menjadi pasar yang teramat menggiurkan bagi perspektif bisnis kapitalisme.

Kompleks yang terdiri dari tujuh menara ini, satu di antaranya bernama Hotel Tower dengan tinggi 601 meter, lebih tinggi dari 6 menara lainnyadan dikhususkan untuk apartemen.

Pada tahap perencanaan Hotel Tower ini diniatkan menjadi hotel berbintang tujuh. Sementara itu, bangunan di bawah tujuh menara ini konon diisi dengan 5 lantai pusat perbelanjaan, ruang konferensi, dan fasilitas-fasilitas yang lain (termasuk ruang beribadah yang sanggup menampung hingga 10.000 orang). Demikian ditulis wikipedia.

Tidak seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi memang tergolong telat memoderenkan negerinya. Kelambatan itu konon paling terasa di Mekah. Namun belakangan, Pemerintah Arab Saudi mulai tancap gas.

Tak hanya dalam menyiapkan infrastruktur sebagai karpet merah bagi modal kapital moderen, melainkan juga mengundang para agen kapital itu untuk berbisnis di Mekah.

Abraj Al Bait Towers yang dirancang sebagai bangunan terluas di dunia, dengan 60 ribu lantai, 2.000 kamar hotel, dilengkapi dengan sebuah pusat konvensi yang dapat menampung 1.500 orang, dua helipad, dan empat mal.

Mal yang kosong tentu bukan target pembangunan itu, maka masuklah sejumlah nama pengisi outlet seperti Starbucks, The Body Shop, clothing line yang berbasis di Inggris Topshop, Tiffany & Co dan berbagai nama lainnya.

Pendeknya mengutip tulisan, Zvika Krieger, deputy web editor The New Republic, berbagai merek terkenal berkumpul di sini. Di kompleks pertokoan yang dapat menampung sekitar 600 outlets.

Jumlah jamaah haji juga mengundang minat superstore kosmetik MAC, pembuat parfum VaVaVoom, dan berbagai nama lain seperti Claire’s Accessories, H&M dan Cartier untuk menangguk keuntungan.

Masalahnya, berbagai modernisasi itu dilakukan dengan, pada akhirnya, menggeser situs Islam yang ada di Mekah. Termasuk kemungkinan membongkar makam Nabi Muhammad. Hal yang menurut KH. Masdar F. Mas’udi, seperti dikatakan kepada Kabar 24, sudah mulai dibicarakan pada tahun 1920-an.

Bila di masa lalu, alasan pembongkaran itu karena pandangan Wahabi yang tidak menginginkan terjadinya pengkultusan kepada makam Nabi, kini siapa yang tidak curiga bahwa pandangan wahabiah itu telah “kawin” dengan spirit kapitalisme yang melihat Mekah sebagai pasar yang menggiurkan?

 

Sumber : Kabar24



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda

Terbaru di Berita Umum

Close