Beranda»Berita Umum»Oknum PNS Aceh Utara "belah duren' di arak warga

Oknum PNS Aceh Utara "belah duren' di arak warga

JAMALUDDIN ~ BISNIS ACEH
Rabu, 11 September 2013 19:47 WIB

ilustrasiilustrasi

LHOKSEUMAWE - Dua pasangan non muhrim di Aceh Utara digelandang warga ditemukan saat melakukan mesum.

Dua pasangan non muhrim ini diantaranya YKB (45), diketahui warga asal Kampung Mantang Kumbang, Kecamatan Baktiya, dan pasangannya NR (37), adalah perempuan yang sudah bersuami di Kampung Alue Leuhob, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara. Keduanya diduga melakukan mesum dikampung NR, kemudian warga setempat melakukan penggerebekan dan menangkap kedua pasangan tersebut.

Warga setempat Syamsul Arifin (32), mengatakan kejadian itu sekitar pukul 20.00WIB. Saat itu warga telah mencurigai ada dua pasangan tengah melakukan mesum di sebuah rumah kosong dekat rumah kepala desa Alue Leuhob. “Kemudian kami langsung menggerebeknya,” kata Syamsul Arifin kepada Bisnis Aceh.

Dikatakannya, begitu diketahui sedang melakukan perbuatan kotor itu, kemudian warga beramai-ramai datang menangkap kedua pasangan tersebut.

“Pria itu berdalih pura-pura mau mencari buah durian dirumah NR, dua pasangan itu kami gelandang karena terbukti kedapatan melakukan perbuatan mesum dengan perempuan bersuami itu,” katanya lagi.

Samsul menambahkan, pria berinisial YKB itu ternyata berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan bekerja disalah satu sekolah di Kecamatan Baktiya Aceh Utara.

Peristiwa penggerebekan itu bermula dari kecurigaan warga terhadap gelagat aneh si pria PNS itu. Menurut keterangan warga, guru berstatus PNS itu acap kali mengunjungi rumah ibu beranak tiga (NR) itu, yang terkadang diwaktu sepi atau disaat si perempuan ditinggal kerja oleh suaminya ke kebun.

Sungguh disayangkan, pasangan mesum ini pun kepergok oleh warga tengah asyik naik ke bulan, hingga akhirnya pria PNS itu ditelanjangi dengan pakaian celana dalam, kemudian diarak - arak keliling kampung.

“Kemudian mereka kami mandikan ke kolam,” sebut Samsul.

Samsul mengatakan, seorang tokoh pemuda setempat, Sapon (36), meminta kedua pasangan itu harus membayar atas kejadian ini apalagi telah mencoreng nama baik kampungnya itu. Keduanya dipaksa warga untuk harus membayar biaya 'Tepung tawari Gampong' berupa uang senilai Rp 5 juta dan 2 ekor kambing.

“Ini bukan denda, tapi sebagai ganti biaya memperbaiki nama kampung,”kata Sapon.



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda

Terbaru di Berita Umum

Close